Obat herbal leukemia

Advertisement
Obat herbal leukemia - “Tiga hari setelah dipaksa meminum herbal, anakku mau meminum teh manis. Padahal dokter hampir menyerah,” ungkap Roemini.

Berbaring di bangsal dengan tangan terkait infus, menjadi aktivitas Ovista mengisi sisa hidup. Perawakannya semakin kurus lantaran tak sedikit pun makanan masuk ke perutnya. Pandangan matanya kosong menatap dinding rumah sakit, dan hanya mampu berkhayal kelak dapat bermain kembali layaknya balita seusianya. “Dokter nyatakan putriku peluangnya kecil sembuh. Kanker darahnya masuk stadium empat,” curahan hati Roemini, ibu berusia 46 tahun ini.

Jutaan rupiah ludes untuk membayar pengobatan anak ketiga dari empat bersaudara itu. Belum lagi rutinitas cuci darah dua kali sebulan. Meski demikian Roemini tak sedikit pun mengangkat bendera putih demi kesembuhan buah hatinya, termasuk mencari jalan alternatif pengobatan.

Di tengah perjuangan mencari harapan hidup putrinya, Roemini mendapat saran mencoba herbal. Ovista dipaksa menenggak obat herbal berbahan tapak dara, keladi tikus, mimba, dan tanaman obat lainnya. Ajaibnya, tiga hari setelah itu, Ovista mau minum teh manis. Secercah harapan pun timbul karena sebelumnya ia hanya mendapat nutrisi dari infus.

Pengobatan herbal berlanjut sebagai pendamping obat dokter. Perlahan tapi pasti, kondisi Ovista membaik. Selera makan tumbuh, malah nilai trombosit dan hemoglobin (Hb)-nya beranjak normal. “Sampai akhirnya dokter heran, anakku bisa hidup normal kembali. Mesti perlu kesabaran untuk mendapatkannya,” tambah sang bunda.

Komposisi Herbal
Di tempat lain, Ny. Tati W. Winarto, pemilik klinik pengobatan herbal Karyasari di Pondok Gede, Jakarta, mengatakan, leukemia bukan penyakit tak tersembuhkan. Penanganan melalui tanaman obat, menurutnya, bisa diandalkan dan tak menimbulkan efek samping.

Berdasar pengalaman menangani pasiennya, Tati melihat gejala awal leukemia mirip demam berdarah (DB) dan tipus. Penderita lemas dan suhu badan meningkat. Sedikit berbeda dengan DB, selain nilai trombosit darah turun, pada penderita leukemia, nilai HB darah ikutan merosot. “Badan panas, terasa sangat lemas, dan berat badan turun. Dan dalam kondisi tertentu bisa sesak nafas. Nafsu makan berkurang drastis, “ terangnya.

Herbalis yang menjadikan kebun tanaman obatnya sebagai obyek agrowisata di Bogor ini biasa memberi pasiennya dengan beberapa tanaman obat. Untuk menaikkan kadar HB, ia memberikan tapak liman atau komfrei. Menaikkan daya tahan tubuh dipilih meniran, dan mematikan sel kanker dimanfaatkan keladi tikus atau tapak dara. Selain itu ditambah pegagan sebagai penekan sel darah putih dan buah makasar (Brucea javanica) yang membantu membunuh sel kanker. Sejatinya, Catharantus roseus alias tapak dara, menurutnya, merupakan obat kemoterapi alami.

Dosis anjuran dalam bentuk kapsul herbal adalah tiga kali sehari, masing-masing herbal satu kapsul. “Untuk kanker darah memang obatnya banyak dan harus sabar,” terang Tati. Agar praktis dan sesuai standar, ia membuat kapsul herbal dari tanaman obat. Harganya relatif murah. Satu botol isi 30 kapsul tapak dara hanya Rp30.000. Begitu juga tapak liman, pegagan, dan meniran. Sedangkan keladi tikus, isi 30 harganya Rp90.000.

Prof. Hembing Wijayakusuma dalam Ramuan Herbal Taklukan Penyakit, menyebut, 20 gr tapak dara, 25gr mahkota dewa, dan 30 gr rumput mutiara sebagai antileukemia. Sedangkan dr. Setiawan Dalimartha melalui 1001 Resep Herbal menulis, 15 gr tapak dara, 15—60 gr rumput mutiara, dan 20 gr sambiloto sebagai obatnya.

Selain obat herbal, pengobatan leukemia bisa ditambah terapi makanan. Pemberian air tajin beras merah dan air rebusan kacang hijau dapat dipilih. Jangan lupa hindari mengonsumsi durian, tauge, dan penyedap rasa.

Selamet Riyanto
www.agrina-online.com

Obat herbal leukemia | Najla Alliya | 5